Pemkot Kupang salurkan bantuan bagi korban Seroja Rp129 miliar

Kupang – Pemerintah Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur telah merealisasikan penyaluran dana bantuan stimulan bagi korban bencana alam berupa badai Seroja di daerah tersebut Rp129.770.000.000 dari total dana bantuan Rp150.985.000.000.

“Realisasi penyaluran dana bantuan bagi korban bencana alam badai Seroja di Kota Kupang telah mencapai 85,95 persen. Proses penyaluran masih terus dilakukan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang Ernest Ludji di Kupang, Kamis, (30/6/2022).

Dia menjelaskan proses penyaluran dana bantuan stimulan bagi korban siklon tropis Seroja yang melanda daerah ini pada 4 April 2021 tersebut masih dilakukan dan dari 51 kelurahan tersisa tiga kelurahan, yaitu Sikumana, Oesapa, dan Oeleta yang warganya sedang berproses untuk pembukaan rekening dan pencarian dana bantuan tersebut.

“Untuk Kelurahan Oesapa dan Penkase Oeleta sedang memasuki tahapan pencairan dana stimulan bantuan bencana Seroja,” katanya.

Dia mengatakan jumlah korban yang terdampak bencana itu di Kota Kupang mencapai 12.192 kepala keluarga, namun 184 KK tidak bisa mendapatkan bantuan karena berpindah domisili, ditemukan rumah yang tidak berpenghuni, serta tidak memenuhi sejumlah kriteria penerima bantuan stimulan.

Dia menambahkan sesuai progres fisik bangunan rumah saat ini dari total korban berdasarkan kategori rusak berat, ringan, dan sedang, telah terealisasi pada rekening masing-masing penerima untuk 7.940 unit atau 65,12 persen, serta realisasi keuangan mencapai Rp72.174.605.000 atau 47,80 persen.

Dia mengatakan progres pembangunan fisik di lapangan tidak sebanding dengan progres keuangan karena surat pertanggungjawaban masing-masing penerima bantuan seroja sedang dilengkapi.

Baca juga: BPBD NTT dorong daerah percepat penyaluran bantuan bencana Seroja

“Tim Teknis masih melakukan validasi di lapangan untuk dua kelurahan yang tersisa sambil pengumpulan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) per penerima sehingga data berubah sesuai verifikasi dan validasi di lapangan,” kata Ernest Ludji. (Ant)