Cuaca Buruk, KSOP Kupang Larang Kapal Pengangkut Ternak Beroperasi

Kupang – Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kupang melarang kapal-kapal pengangkut ternak untuk beroperasi dalam kondisi cuaca buruk yang sedang melanda wilayah perairan Nusa Tenggara Timur saat ini.

“Dengan pertimbangan keselamatan pelayaran maka untuk sementara kapal-kapal tidak boleh memuat ternak seperti sapi, kuda, kerbau, dan lainnya antarprovinsi yang jaraknya jauh,” kata Kepala Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan, dan Patroli KSOP Kupang Azwar Anas dalam keterangan tertulis yang diterima di Kupang, Senin (6/1).

Dia menjelaskan kondisi ruang muatan atau rendahnya dek geladak kapal pengangkut ternak pada umumnya sangat berisiko masuknya air ke dalam kapal saat cuaca buruk.

Selain itu, muatan hewan juga sangat rawan bergeser saat menghadapi gelombang tinggi sehingga bisa berdampak pada kehilangan keseimbangan kapal.

“Di sisi lain jarak tempuh yang jauh juga akan membutuhkan waktu lebih lama sehingga berdampak pada pembekalan hewan karena keterbatasan daya angkut,” katanya.

Untuk itu, pihaknya meminta agar setiap pembatalan kapal atau tindakan nakhoda bila tidak melanjutkan pelayaran supaya segera melapor ke KSOP Kupang.

Dia mengatakan terhadap surat permohonan pemberangkatan kapal akan disesuaikan dengan perkembangan cuaca laut yang mengacu pada keselamatan pelayaran dan prakiraan cuaca dari BMKG Kupang.

Wilayah perairan NTT dilaporkan rawan terhadap pelayaran karena berdasarkan prakiraan BMKG Kupang, tinggi gelombang bisa mencapai 4 meter dalam beberapa hari ke depan.

“Kondisi ini dipicu tekanan rendah di barat Australia dan adanya pola siklonik di Laut Banda,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Matirim Tenau, Ota Welly J Thalo di Kupang, Minggu (5/1).

Wilayah-wilayah perairan laut di provinsi berbasis kepulauan itu yang berpotensi terjadinya gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter adalah Selat Sumba bagian barat, perairan selatan Kupang hingga Rote Ndao.

“Selain itu juga di perairan Laut Sawu bagian utara, Samudera Hindia selatan Kupang-Rote dan Samudera Hindia selatan Sumba hingga Sabu,” katanya.

Cuaca Ekstrim
Sementara itu, BMKG Stasiun Meteorologi Gewayantana Larantuka di Kabupaten Flores Timur, mengimbau warganya untuk mewaspadai dampak cuaca ekstrem berupa hujan dan angin kencang.

“Cuaca seperti sekarang ini bisa menimbulkan bahaya banjir dan longsor mengingat daerah Flores Timur berada pada daerah yang miring,” kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Gewayantana Larantuka Marsianus YR Milla ketika dihubungi Antara dari Kupang, Senin (6/1).

Ia mengatakan kondisi topografi kabupaten itu yang dikelilingi gunung dan bukit membuat daerah tersebut rawan terkena longsor saat musim hujan dengan intensitas hujan yang tinggi seperti saat ini.

Pada Maret 2019 lalu Desa Sinar Hading di Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, juga diterjang banjir dari atas bukit akibat curah hujan yang sangat tinggi.

Dalam kejadian tersebut tak ada korban jiwa, namun rumah warga dan lahan pertanian digerus banjir sehingga menderita kerugian.

Ia meminta agar warga yang bepergian juga selalu berhati-hati khususnya saat melintasi bukit-bukit, khususnya di lokasi pembukaan jalan baru yang rentan akan longsor.

Tak hanya itu, Marsianus juga mengimbau warga di kabupaten itu untuk berhati-hati saat bepergian keluar khususnya di daerah terbuka karena rawan tersambar petir.

Seperti halnya kejadian dua warga di Larantuka, tersambar petir ketika sedang berteduh di bawah mobil crane atau kendaraan pengangkut alat berat yang sedang diparkir di pinggir jalan.

Sebelumnya BMKG Stasiun Meteorologi Kupang juga pada Sabtu (4/1) telah mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat, khususnya yang melaut karena angin kencang serta gelombang tinggi ada di wilayah perairan NTT.

Sementara itu Plt. BPBD Flores Timur Igo Geroda juga mengimbaukan hal yang sama. Pihaknya selama musim hujan dan cuaca ekstrem seperti saat ini sudah bersiap siaga. (Ant)