Karen Agustiawan Tidak Mengerti Kesalahan yang Dituduhkan Kejagung Soal Blok BMG

Jakarta – Mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Galaila Karen Kardinah alias Karen Agustiawan, mengaku tidak mengerti apa yang dituduhkan Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam kasus dugaan korupsi investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia.

“Saya sampai hari ini tidak tahu salah saya di mana. Apalagi selama saya memimpin, Pertamina mampu dikenal di kancah internasional,” kata Karen sebelum sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (31/1).

Atas surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum, Karen mengaku sudah menyiapkan tanggapan atau nota keberatan (eksepsi) dan akan langsung dibacakan pada persidangan hari ini.

“Nanti eksepsi saya baca, kenapa aksi korporasi ini harus dibela dan harus dilindungi oleh pemerintah. Saya ingin mengikuti proses ini seutuhnya untuk mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya,” ujar Karen.

Ia mengharapkan agar pemerintah melindungi dan mendukung aksi korporasi. Aksi ini termasuk investasi adalah untuk mengembangkan perusahaan yang berkelanjutan.

“Tidak ada Pertamina hari ini kalau tidak ada Pertamina 5 tahun lalu, 10 tahun lalu, mapun 61 yang lalu saat Pertamina dilahirkan. Saya minta doanya saja, supaya kebenaran dan keadilan ini akan terbuka, biar keadilan itu muncul walaupun langit akan runtuh,” katanya.

Sementara itu, tim kuasa hukum Karen yang dipimpin oleh Soesilo Aribowo menilai bahwa kliennya tidak melanggar prosedur dalam investasi PT Pertamina, yakni akusisi dalam bentuk participating interest sebesar 10% di Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia, dari Roc Oil Company (ROC) Limited pada tahun 2009.

Soesilo menambahkan bahwa kliennya tidak bersalah karena investasi tersebut sesuai prosedur. “Investasi ini merupakan tindak lanjut dari amanah yang diberikan oleh pemegang saham kepada direksi PT Pertamina untuk meningkatkan cadangan dan produksi migas Pertamina sebagaimana tertuang dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RPJP) 2009-2013 yang selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2009,” ujarnya.

Untuk menjalankan amanah dan aksi korporasi tersebut, lanjut Soesilo, pihak direksi melakukannya secara profesional dan terukur seperti yang telah dilakukan dalam mengakusisi blok Migas di Tuban, Jawa Timur (Jatim) sehingga mendapat pujian dari berbagai kalangan.

Menurut Soesilo, akusisi Blok BMG sudah mendapat persetujuan dari pihak-pihak terkait, termasuk dari Dewan Komisaris (Dekom) Pertamina. Hal ini menepis tuduhan jaksa penuntut umum bahwa investasi ini belum disetujui Dekom.

“Disetujui oleh Dewan Komisaris Pertamina yang di dalam surat persetujuannya secara jelas menyatakan persetujuan tanpa syarat-syarat apapun,” jelasnya.

Selain itu, dalam proses akusisi Blok BMG, tim akusisi melibatkan beberapa konsultan independen yang mempunyai reputasi internasional yaitu PT Deloite Konsultan Indonesia sebagai financial advisor dan melakukan due diligence dan Baker McKenzie untuk legal advisor. Sedangkan data-data cadangan minyak telah disertifikasi oleh Resource Investment Strategy Consultants (RISC).

“Data-data teknis terkait cadangan minyak di Blok BMG mendapatkan sertifikat dari Resource Investment Strategy Consultants (RISC) yang bereputasi internasional,” katanya.

Bukan hanya itu, seluruh kerja keras terkait investasi ini sudah mendapat pembebasan dan pelunasan tanggung jawab dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) 2010 yang dihadiri seluruh anggota Dekom Pertamina dan menjadi pengakuan dalam kepemimpinan Karen telah menuntaskan tanggung jawabnya.

“Hal ini termasuk untuk kegiatan akusisi Blok BMG Autralia. Artinya, Ibu Karen dan seluruh direksi pada saat itu tidak melakukan tindakan melawan hukum dan tanpa ada catatan apapun,” ungkap Soesilo. (Rls)